Tema : Kependudukan di Indonesia
Topik
: Bonus Demografi dan Ketenagakerjaan
Judul : “Bonus Demografi Indonesia : Antara Peluang dan Tantangan”
Oleh
: Nn. Noni H. Nahumury
Siswa SMK Negeri 6 Ambon
Seperti yang kita ketahui, bahwa istilah “kependudukan” merupakan
sebuah istilah yang sangat melekat dengan kita, karena terkait dengan hakekat
hidup kita sebagai warga bangsa. Kata
kependudukan setidaknya bisa diartikan sebagai suatu kumpulan sejumlah individu atau sebagian orang yang mendiami suatu wilayah tertentu pada waktu
tertentu, dan
dalam peristiwa tertentu.
Istilah kependudukan memang mejadi bagian yang sangat
penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia, karena merupakan salah
satu syarat berdirinya suatu bangsa, selain pemerintahan, dan wilayah. Itu
berati aspek kepndudukan merupakan suatu aspek yang sangat menentukan berdirnya
sebuah negara-bangsa, termasuk Indonesia.
Dari data yang say abaca di internet, menggambarkan
bahwa jumlah penduduk di Indonesia termasuk salah satu
negara terpadat di dunia. Bayangkan kita berada pada posisi atau menempati
urutan ke-4 dari 236 negara di
dunia. Sebuah posisi yang luar biasa dan ini patut kita banggakan sebagai
bangsa Indonesia yang adalah negara berkembang. Artinya, kita boleh tergolog
sebagai sebuah negara besar yang patut diperhitungkan oleh negara-negara lain
di dunia. Sebagai sebuah negara dengan jumlah penduduknya yang sangat banyak di dunia ini, tentu kita semua harus
merasa gembira dan terus bersemangat karena tidak semua negara di dunia sangat
besar dan kaya seperti Indonesia, baik dari aspek penduduk maupun sumber daya
alamnya, serta luas wilayahnya.
Dengan potensi bangsa yang luar biasa itu, misalnya jumlah
penduduknya yang besar, luasnya negara kepulauan yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke, dan sumber daya alam yang melimpa itu, membuat bangsa kita suatu
ketika disegani bahkan “ditakuti” oleh bangsa lain di dunia, terutama di
negara-negara Asia. Namun…, tak
dapat disangkal bahwa jumlah penduduk yang banyak itu juga bisa menjadi
“tantangan tersendiri” bagi bangsa kita kalau tidak diberdayakan dan dikelola
oleh kita semua sebagai warga masyarakat dan pemerintah.
Tidak
hanya itu, faktor geografi, tingkat migrasi, struktur kependudukan di Indonesia
dll., turut membuat
masalah kependudukan semakin kompleks dan juga menjadi hal yang perlu
mendapatkan perhatian khusus dari kita semua,
terutama generasi muda Maluku. Akibat kepadatan penduduk inilah akan menimbulkan masalah-masalah di dalam
kependudukan Indonesia.
Ada sejumlah masalah yang timbul terkait dengan aspek kependudukan, antara lain :
A. Demografis
1. Besarnya Jumlah
Penduduk (over population).
Besarnya jumlah penduduk di Indonesia yang diperkirakan akan
mencapai angka 300 juta jiwa pada tahun 2015 ini. Sebuah angka yang pada
satu pihak memberikan harapan dan pada pihak lain “menantang” kita sebagai
generasi muda, terutama pelajar yang hidup di era sekarang. Angka yang begitu tinggi sebagai penyebab
meningkatnya jumlah penduduk yang begitu besar pada aktivitas imigrasi,
urbanisasi dan program KB yang kurang (tidak?) sukses. Dengan besarnya jumlah penduduk yang dipengaruhi
oleh angka kelahiran seperti yang diseutkan di atas, maka tak salah ketika
pernyataan Menko Kesra pada beberapa tahun kemarin, bahwa setiap hari sekitar
10 ribu bayi yang lahir di Indonesia. Sebuah fertilitas (kelahiran) yang sulit
dibendung oleh kita sebagai bangsa.
2. Permasalahan
Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan penduduk di Indonesia berkisar
antara 2,15% hingga 2.49% per tahun. Tingkat pertumbuhan
penduduk seperti itu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu : Faktor
kelahiran (ferbilitas), faktor
kematiaan (mortalitas),
dan faktor perpindahan penduduk (migrasi). Peristiwa kelahiran di suatu daerah
menyebabkan perubahan jumlah dan komposisi penduduk. Kalau peristiwa kematiaan dapat menambah dan mengurangi jumlah
penduduk di suatu daerah, sedangkan peristiwa perpindahan penduduk terjadi
karena dipengaruhi oleh keadaan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dsb.
3. Masalah Kepadatan
Penduduk.
Permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah pesebarannya yang
tidak merata. Kondisi demikian
banyak menimbulkan permasalahan, misalnya emiskinan, kriminalitas, pemukiman kumuh, dsb.
B. Non Demografis
Bersifat Kualitatif.
1. Tingkat kesehatan
penduduk yang rendah.
Dalam hal kesehatan, yang akan menjadi sorotan bagaimana gambaran tingkat kesehatan yakni, angka kematia bayi.
Besarnya kematian bayi yang terjadi
menunjukan bagaimana kondisi lingkungan dan kesehatan pada masyarakat. Dan dari rendahnya tingkat kesehatan penduduk inilah yang bakal menjadi
salah satu faktor yang turut mempengaruhi rendahnya kesehatan di Indonesia,
yakni :
v Terdapat sejumlah lingkungan yang kurang sehat;
v Ada beberapa penyakit yang sering menular;
v Terdapat sejumlah gejala kurang gizi yang dialami oleh
sejumlah penduduk di Tanah Air.
Oleh karena
itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kesehatan di atas,
maka pemerintah mesti berani mengusahakan berbagai cara untuk meningkatkan
kualitas kesehatan penduduk Indonesia yakni, antara lain :
v Melaksanakan program perbaikan gizi;
v Memperbaiki lingkungan hidup dengan cara mengubah
perilaku sehat penduduk, serta melengkapi sarana dan prasarana kesehatan
masyarakat;
v Penambahan jumlah tenaga medis di kalangan masyarakat
seperti dokter, bidan, perawat, dll.;
v Pencegahan dan pemberantasan penyakit yang berbahaya
dan menular;
v Membuat bangunan kesehatan pada masyarakat seperti
puskesmas, dll.;
v Memberikan penyediaan air bersih kepada masyarakat,
dsb.
2. Pendidikan yang
Rendah.
Kesadaran masyarakat akan pendidikan di Indonesia
masih terkesan rendah. Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu
pendidikan. Oleh karena itu, diharapkan melalui berbagai program pemerintah di
bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah
(BOS), program wajib belajar 9 tahun, dsb., dapat membantu meningkatkan mutu
pendidikan sehingga adanya pengetahuan dan kesadaran dri masyarakat tentang
permasalahn yang kita almi sebagai bangsa.
Oleh karena
itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia
sebagai berikut :
v Rendahnya kesempatan pemerataan Pendidikan
Sementara itu
layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam
usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia
secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi
pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan
tersebut.
v Mahalnya Biaya Pendidikan di Indonesia
Ada ungkapan
dalam masyarakat, bahwa “Pendidikan itu mahal”. Pernyataan ini sering muncul
untuk membenarkan, bahwa pendidikan itu mahal sehingga masyarakat harus
mengeluarkan biaya bila ingin mengenyam pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan
dari taman kanak-kank (TK) hingga perguruaan tinggi (PT) seakan membuat
masyarakat menjadi miskin dan tidak memiliki pilihan lain, kecuali bersekolah.
Sebenarnya pemerintah berkewajiban menjamin setiap warga negaranya untuk
memperoleh pendidikan, dan menjamin akses mutu pendidikan di masyarakat. Akan
tetapi, kenyataannya bahwa pemerintah justru ingin berkilah tangan dari
tanggung jawabnya. Padahal keterbatasan dana tidaklah dapat dijadikan alasan
bagi pemerintah untuk ‘cuci tanggan’. Jika hal ini terus terjadi, maka akan
semakin mempersulit bangsa kita, terutama generasi muda bangsa yang ingin
berprestasi.
v Rendahnya Pendapatan Perkapitan Penduduk Indonesia.
Akibat
rendahnya pendapatan perkapita, maka orang tua merasa tidak mampu untuk
membiayai anaknya untuk bersekolah. Akhirnya banyak anak Indonesia yang
terpaksa “putus sekolah atau berhenti sekolah” sebelum mereka tamat sebagai
siswa, karena rendahnya pendapatan perkapitan orang tua mereka.
v Kurangnya Kesadaran Penduduk Terhadap Pentingnya
Pendidikan di Indonesia.
Hal ini
terjadi sehingga anak tidak disekolahkan, tetapi justru lebih diarahkan untuk
bekerja oleh orang tua mereka untuk membantu memenuhi perekonomiaan keluarga
mereka.
3. Banyaknya Jumlah
Penduduk Miskin.
Kemiskinan juga menjadi salah satu masalah yang melanda Indonesia.
Akibat dari malas bisa mengakibatkan kemiskinan, karena kemiskinan adalah bagian dari masyarakat yang merasa malas dalam bekerja. Walau Indonesia
bukan termasuk negara miskin menurut data PBB, namun dalam
kenyataannya lebih dari 30 juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis
kemiskinan. Yang lebih disayangkan lagi, Indonesia merupkan negara yang kaya
akan sumber daya alam yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, tapi sungguh memprihatinkan ketika melihat
bagaimana kemiskinan menjadi bagian permasalahan di negeri yang kaya ini.
Secara garis besar penurunan jumlah warga miskin memang terlihat
signifikan. Hal ini juga dibenarkan oleh beberapa pakar yang mengamati
penurunan ini. Namun, angka 30 juta masih menjadi permasalahan sendiri
mengingat adanya berbagai tujuan global yang akan dicapai tahun 2015.
Selain kemiskinan, masalah lain adalah kesenjangan sosial menjadi
terlihat jelas di Indonesia. Kaum konglomerat menjadi penguasa, namun pemerintah
diam saja dengan kemiskinan yang ada. Tidak mengherankan apabila negara
Indonesia memiliki jumlah rakyat miskin yang cukup banyak.
Yang manjadi pertanyaan, mengapa bangsa Indonesia bisa menjadi negara yang penduduknya miskin, sementara
potensi alam kita cukup kaya. Sedangkan banyak
negara yan miskin sumber daya alam, namun menjadi negara-negara kaya yang menguasai dunia. Jawabannya
kembali ke sumber daya manusia. Misalnya, Jepang, Singapura, dll. Tingkat kemakmuran
berbanding lurus dengan kualitas SDM. Semakin tinggi kualitas SDM penduduk,
semakin tinggi pula tingkat kemakmurannya. Ini dibuktikan oleh negara yang
miskin sumber daya alam, tetapi tingkat
kemakmuran penduduknya tinggi. Kurangnya perhatian
terhadap SDM Indonesia menjadikan rakyat banyak yang menderita. Seharusnya
kenyataan ini menjadikan dasar pertimbangan kebenaran UUD pasal 33 sangat jelas mengindari kemiskinan yang melanda bangsa kita.
Sejumlah permasalahan di atas menimbulkan
kurangnya ketenagakerjaan, yang bermuara pada permasalahan
ketenagakerjaan yang berakibat pada tingkat pengangguran. Apa lagi tingginya tingkat penganguran ini semakin
diperparah dengan adanya PHK (pemutusan
hubungan tenagan kerja). Penganguran
ini akan berakibat luas dalam perspektif pembangunan ekonomi suatu negara. Banyaknya jumlah pengganguran merupakan faktor penghambat
pembanggunan ekonomi suatu negara, sekaligu menjadi pemicu terganggunya kestabilan sosial dan politik.
Oleh karena
itu, ada beberapa solusi yang saya ingin tawarkan, antara lain :
1. Pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk dilakukan dengan cara
menekan angka kelahiran melalui pembatasan jumlah kelahiran dengan mengikuti
program KB, serta menunda usia perkawinan muda dan lebih meningkatkan
pendidikan;
2. Pemerataan
persebaran penduduk, dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan
industri di wilayah yang jarak penduduknya, seperti di Papua, Maluku dan
Sulawesi Tengah;
3. Pengangguran di
atas dengan mengikuti pelatihan kerja, memperbaiki mental pengangguran, upaya
pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak sehingga
dapat membantu untuk mengurangi tingkat pengangguran. Dan juga menciptakan
kesadaran pemuda Indonesia untuk berwirausaha dan dapat menimbulkan
lapangan pekerjaan;
4. Untuk mencapai
pemerataan dan keseimbangan dalam penyebaran penduduk, maka salah satu jalan dalam mengatasi masalah kependudukan ialah
dengan mengadakan transmigrasi. Transmigrasi merupakan
perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah Indonesia. Umumnya orang-orang
yang mengikuti program transmigrasi berasal dari Jawa, Madura, dan Bali. Mereka biasanya
ditempatkan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan di bagian
Nusantara yang masih jarang penduduk.
5. Diharapkan adanya kesadaran dari kita semua sebagai
generasi muda yang hidup sekarang bisa mengatur diri secara baik, dan tidak
tergesah-gesah menambah beban pemerintah dengan mempercepat perkawinan, tetapi
lebih tekun dengan proses pendidikan yang semakin tinggi.
6. melaksanakan program KB atau Keluarga Berencana untuk
membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum sehingga dapat
mengurangi jumlah angka kelahiran.
7. Penambahan dan
penciptaan lapangan kerja.
8. Meningkatkan
kesadaran dan pendidikan kependudukan.
10. meningkatkan
produksi dan pencarian sumber makanan.
Ambon, 12 Mei 2015
Penulis
Nn. Hendriyeta Nahumury
Siswa SMK Negeri 6 Ambon
