Minggu, 24 Mei 2015

“Bonus Demografi Indonesia : Antara Peluang dan Tantangan”

Tema : Kependudukan di Indonesia
Topik : Bonus Demografi dan Ketenagakerjaan
                   Judul : “Bonus Demografi Indonesia : Antara Peluang dan Tantangan”
Oleh : Nn. Noni H. Nahumury
Siswa SMK Negeri 6 Ambon



Seperti yang kita ketahui, bahwa istilah “kependudukan merupakan sebuah istilah yang sangat melekat dengan kita, karena terkait dengan hakekat hidup kita sebagai warga bangsa. Kata kependudukan setidaknya bisa diartikan sebagai suatu kumpulan sejumlah individu atau sebagian orang yang mendiami suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu, dan dalam peristiwa tertentu.
Istilah kependudukan memang mejadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia, karena merupakan salah satu syarat berdirinya suatu bangsa, selain pemerintahan, dan wilayah. Itu berati aspek kepndudukan merupakan suatu aspek yang sangat menentukan berdirnya sebuah negara-bangsa, termasuk Indonesia.
Dari data yang say abaca di internet, menggambarkan bahwa jumlah penduduk di Indonesia termasuk salah satu negara terpadat di dunia. Bayangkan kita berada pada posisi atau menempati urutan ke-4 dari 236 negara di dunia. Sebuah posisi yang luar biasa dan ini patut kita banggakan sebagai bangsa Indonesia yang adalah negara berkembang. Artinya, kita boleh tergolog sebagai sebuah negara besar yang patut diperhitungkan oleh negara-negara lain di dunia. Sebagai sebuah negara dengan jumlah penduduknya yang sangat banyak di dunia ini, tentu kita semua harus merasa gembira dan terus bersemangat karena tidak semua negara di dunia sangat besar dan kaya seperti Indonesia, baik dari aspek penduduk maupun sumber daya alamnya, serta luas wilayahnya.
Dengan potensi bangsa yang luar biasa itu, misalnya jumlah penduduknya yang besar, luasnya negara kepulauan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan sumber daya alam yang melimpa itu, membuat bangsa kita suatu ketika disegani bahkan “ditakuti” oleh bangsa lain di dunia, terutama di negara-negara Asia. Namun…, tak dapat disangkal bahwa jumlah penduduk yang banyak itu juga bisa menjadi “tantangan tersendiri” bagi bangsa kita kalau tidak diberdayakan dan dikelola oleh kita semua sebagai warga masyarakat dan pemerintah.
Tidak hanya itu, faktor geografi, tingkat migrasi, struktur kependudukan di Indonesia dll., turut membuat masalah kependudukan semakin kompleks dan juga menjadi hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari kita semua, terutama generasi muda Maluku. Akibat kepadatan penduduk inilah akan menimbulkan masalah-masalah di dalam kependudukan Indonesia.
Ada sejumlah masalah yang timbul terkait dengan aspek kependudukan, antara lain :
A.      Demografis
1.      Besarnya Jumlah Penduduk (over population).
Besarnya jumlah penduduk di Indonesia yang diperkirakan akan mencapai angka 300 juta jiwa pada tahun 2015 ini. Sebuah angka yang pada satu pihak memberikan harapan dan pada pihak lain “menantang” kita sebagai generasi muda, terutama pelajar yang hidup di era sekarang. Angka yang begitu tinggi sebagai penyebab meningkatnya jumlah penduduk yang begitu besar pada aktivitas imigrasi, urbanisasi dan program KB yang kurang (tidak?) sukses. Dengan besarnya jumlah penduduk yang dipengaruhi oleh angka kelahiran seperti yang diseutkan di atas, maka tak salah ketika pernyataan Menko Kesra pada beberapa tahun kemarin, bahwa setiap hari sekitar 10 ribu bayi yang lahir di Indonesia. Sebuah fertilitas (kelahiran) yang sulit dibendung oleh kita sebagai bangsa.
2.      Permasalahan Pertumbuhan Penduduk.
Pertumbuhan penduduk di Indonesia berkisar antara 2,15% hingga 2.49% per tahun. Tingkat pertumbuhan penduduk seperti itu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu : Faktor kelahiran (ferbilitas), faktor kematiaan (mortalitas), dan faktor perpindahan penduduk (migrasi). Peristiwa kelahiran di suatu daerah menyebabkan perubahan jumlah dan komposisi penduduk. Kalau peristiwa kematiaan dapat menambah dan mengurangi jumlah penduduk di suatu daerah, sedangkan peristiwa perpindahan penduduk terjadi karena dipengaruhi oleh keadaan sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, dsb.
3.      Masalah Kepadatan Penduduk.
Permasalahan dalam kepadatan penduduk adalah pesebarannya yang tidak merata. Kondisi demikian banyak menimbulkan permasalahan, misalnya emiskinan, kriminalitas, pemukiman kumuh, dsb.

B. Non Demografis Bersifat Kualitatif.
1.    Tingkat kesehatan penduduk yang rendah.
Dalam hal kesehatan, yang akan menjadi sorotan bagaimana gambaran tingkat kesehatan yakni, angka kematia bayi. Besarnya kematian bayi yang terjadi menunjukan bagaimana kondisi lingkungan dan kesehatan pada masyarakat. Dan dari rendahnya tingkat kesehatan penduduk inilah yang bakal menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi rendahnya kesehatan di Indonesia, yakni :
v  Terdapat sejumlah lingkungan yang kurang sehat;
v  Ada beberapa penyakit yang sering menular;
v  Terdapat sejumlah gejala kurang gizi yang dialami oleh sejumlah penduduk di Tanah Air.
Oleh karena itu,  ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kesehatan di atas, maka pemerintah mesti berani mengusahakan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk Indonesia yakni, antara lain :
v  Melaksanakan program perbaikan gizi;
v  Memperbaiki lingkungan hidup dengan cara mengubah perilaku sehat penduduk, serta melengkapi sarana dan prasarana kesehatan masyarakat;
v  Penambahan jumlah tenaga medis di kalangan masyarakat seperti dokter, bidan, perawat, dll.;
v  Pencegahan dan pemberantasan penyakit yang berbahaya dan menular;
v  Membuat bangunan kesehatan pada masyarakat seperti puskesmas, dll.;
v  Memberikan penyediaan air bersih kepada masyarakat, dsb.
2.    Pendidikan yang Rendah.
Kesadaran masyarakat akan pendidikan di Indonesia masih terkesan rendah. Pemerintah Indonesia telah berusaha keras untuk meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu, diharapkan melalui berbagai program pemerintah di bidang pendidikan, seperti program beasiswa, adanya bantuan operasional sekolah (BOS), program wajib belajar 9 tahun, dsb., dapat membantu meningkatkan mutu pendidikan sehingga adanya pengetahuan dan kesadaran dri masyarakat tentang permasalahn yang kita almi sebagai bangsa.
Oleh karena itu, ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia sebagai berikut :
v  Rendahnya kesempatan pemerataan Pendidikan
Sementara itu layanan pendidikan usia dini masih sangat terbatas. Kegagalan pembinaan dalam usia dini nantinya tentu akan menghambat pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu diperlukan kebijakan dan strategi pemerataan pendidikan yang tepat untuk mengatasi masalah ketidakmerataan tersebut.
v  Mahalnya Biaya Pendidikan di Indonesia
Ada ungkapan dalam masyarakat, bahwa “Pendidikan itu mahal”. Pernyataan ini sering muncul untuk membenarkan, bahwa pendidikan itu mahal sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya bila ingin mengenyam pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari taman kanak-kank (TK) hingga perguruaan tinggi (PT) seakan membuat masyarakat menjadi miskin dan tidak memiliki pilihan lain, kecuali bersekolah. Sebenarnya pemerintah berkewajiban menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan, dan menjamin akses mutu pendidikan di masyarakat. Akan tetapi, kenyataannya bahwa pemerintah justru ingin berkilah tangan dari tanggung jawabnya. Padahal keterbatasan dana tidaklah dapat dijadikan alasan bagi pemerintah untuk ‘cuci tanggan’. Jika hal ini terus terjadi, maka akan semakin mempersulit bangsa kita, terutama generasi muda bangsa yang ingin berprestasi.
v  Rendahnya Pendapatan Perkapitan Penduduk Indonesia.
Akibat rendahnya pendapatan perkapita, maka orang tua merasa tidak mampu untuk membiayai anaknya untuk bersekolah. Akhirnya banyak anak Indonesia yang terpaksa “putus sekolah atau berhenti sekolah” sebelum mereka tamat sebagai siswa, karena rendahnya pendapatan perkapitan orang tua mereka.
v   Kurangnya Kesadaran Penduduk Terhadap Pentingnya Pendidikan di Indonesia.
Hal ini terjadi sehingga anak tidak disekolahkan, tetapi justru lebih diarahkan untuk bekerja oleh orang tua mereka untuk membantu memenuhi perekonomiaan keluarga mereka.
3.        Banyaknya Jumlah Penduduk Miskin.
Kemiskinan juga menjadi salah satu masalah yang melanda Indonesia. Akibat dari malas bisa mengakibatkan kemiskinan, karena kemiskinan adalah bagian dari masyarakat yang merasa malas dalam bekerja. Walau Indonesia bukan termasuk negara miskin menurut data PBB, namun dalam kenyataannya lebih dari 30 juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Yang lebih disayangkan lagi, Indonesia merupkan negara yang kaya akan sumber daya alam yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, tapi sungguh memprihatinkan ketika melihat bagaimana kemiskinan menjadi bagian permasalahan di negeri yang kaya ini.
Secara garis besar penurunan jumlah warga miskin memang terlihat signifikan. Hal ini juga dibenarkan oleh beberapa pakar yang mengamati penurunan ini. Namun, angka 30 juta masih menjadi permasalahan sendiri mengingat adanya berbagai tujuan global yang akan dicapai tahun 2015.
Selain kemiskinan, masalah lain adalah kesenjangan sosial menjadi terlihat jelas di Indonesia. Kaum konglomerat menjadi penguasa, namun pemerintah diam saja dengan kemiskinan yang ada. Tidak mengherankan apabila negara Indonesia memiliki jumlah rakyat miskin yang cukup banyak.
Yang manjadi pertanyaan, mengapa bangsa Indonesia bisa menjadi negara yang penduduknya miskin, sementara potensi alam kita cukup kaya. Sedangkan banyak negara yan miskin sumber daya alam, namun menjadi negara-negara kaya yang menguasai dunia. Jawabannya kembali ke sumber daya manusia. Misalnya, Jepang, Singapura, dll. Tingkat kemakmuran berbanding lurus dengan kualitas SDM. Semakin tinggi kualitas SDM penduduk, semakin tinggi pula tingkat kemakmurannya. Ini dibuktikan oleh negara yang miskin sumber daya alam, tetapi tingkat kemakmuran penduduknya tinggi. Kurangnya perhatian terhadap SDM Indonesia menjadikan rakyat banyak yang menderita. Seharusnya kenyataan ini menjadikan dasar pertimbangan kebenaran UUD pasal 33 sangat jelas mengindari kemiskinan yang melanda bangsa kita.
Sejumlah permasalahan di atas menimbulkan kurangnya ketenagakerjaan, yang bermuara pada permasalahan ketenagakerjaan yang berakibat pada tingkat pengangguran. Apa lagi tingginya tingkat penganguran ini semakin diperparah dengan adanya PHK (pemutusan hubungan tenagan  kerja).  Penganguran ini akan berakibat luas dalam perspektif pembangunan ekonomi suatu negara. Banyaknya jumlah pengganguran merupakan faktor penghambat pembanggunan ekonomi suatu negara, sekaligu menjadi pemicu terganggunya kestabilan sosial dan politik.
Oleh karena itu, ada beberapa solusi yang saya ingin tawarkan, antara lain :
1.      Pengendalian jumlah dan pertumbuhan penduduk dilakukan dengan cara menekan angka kelahiran melalui pembatasan jumlah kelahiran dengan mengikuti program KB, serta menunda usia perkawinan muda dan lebih meningkatkan pendidikan;
2.      Pemerataan persebaran penduduk, dilakukan dengan cara transmigrasi dan pembangunan industri di wilayah yang jarak penduduknya, seperti di Papua, Maluku dan Sulawesi Tengah;
3.      Pengangguran di atas dengan mengikuti pelatihan kerja, memperbaiki mental pengangguran, upaya pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak sehingga dapat membantu untuk mengurangi tingkat pengangguran. Dan juga menciptakan kesadaran pemuda Indonesia untuk berwirausaha dan dapat menimbulkan lapangan pekerjaan;
4.      Untuk mencapai pemerataan dan keseimbangan dalam penyebaran penduduk, maka salah satu jalan dalam mengatasi masalah kependudukan ialah dengan mengadakan transmigrasi. Transmigrasi merupakan perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah Indonesia. Umumnya orang-orang yang mengikuti program transmigrasi berasal dari Jawa, Madura, dan Bali. Mereka biasanya ditempatkan di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, dan di bagian Nusantara yang masih jarang penduduk.
5.      Diharapkan adanya kesadaran dari kita semua sebagai generasi muda yang hidup sekarang bisa mengatur diri secara baik, dan tidak tergesah-gesah menambah beban pemerintah dengan mempercepat perkawinan, tetapi lebih tekun dengan proses pendidikan yang semakin tinggi.
6.      melaksanakan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum sehingga dapat mengurangi jumlah angka kelahiran.
7.      Penambahan dan penciptaan lapangan kerja.
8.      Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan.
9.      Mengurangi kepadatan penduduk dengan programtransmigrasi.
10.  meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan.

Ambon, 12 Mei 2015
Penulis



Nn. Hendriyeta  Nahumury

Siswa SMK Negeri 6 Ambon